The Skin I Live In (2011)

Written By Regina Kim on Friday, December 23, 2011 | 1:10 AM




Cast: Antonio Banderas as Robert Ledgard, a surgeon
Blanca Suárez as Norma Ledgard, his daughter
Marisa Paredes as Marilia, mother of Robert and Zeca
Roberto Álamo as Zeca, her son
Elena Anaya as Vera Cruz
Jan Cornet as Vicente Guillén Piñeiro
Susi Sánchez as Vicente's mother
Bárbara Lennie as Cristina
Eduard Fernández as Fulgencio, a colleague of Robert

Alur Cerita/Sinopsis/Preview

Sejak istrinya terbakar dalam kecelakaan mobil, Dr Robert Ledgard, seorang ahli bedah plastik terkemuka, telah tertarik dalam menciptakan kulit baru yang dia bisa menyelamatkannya. Setelah dua belas tahun, ia berhasil menumbuhkan kulit yang adalah sebagai pelindung nyata terhadap setiap kerusakan kulit tsb.




Abduction (2011)

Written By Regina Kim on Thursday, December 22, 2011 | 11:01 PM







CAST & CREW
Director: 
John Singleton
Producer: Doug Davison,Ellen Goldsmith-Vein,Lee Stollman,Roy Lee,Dan Lautner
Starring: Taylor Lautner,Lily Collins,Alfred Molina,Jason Isaacs,Maria Bello,Sigourney Weaver

Alur Cerita/Sinopsis/Preview


Tidak seperti film sejenis yang memulai segalanya dengan cepat, Abduction baru memasuki inti kisah setelah berceloteh kesana kemari sepanjang 15 menit. Saya paham bahwa Shawn Christensen ingin mengajak penonton untuk menyelami kehidupan Nathan Harper (Taylor Lautner) terlebih dahulu, tetapi apa yang disampaikan hampir tak bermakna. Semuanya dijelaskan secara sekilas saja dan selebihnya adalah kegilaan Nathan bersama konco-konconya plus adegan buka baju yang ditunggu-tunggu oleh fans Taylor Lautner. Kita juga akan menyaksikan usaha Nathan untuk
menarik perhatian Karen (Lily Collins), gadis cantik yang sudah lama ditaksirnya. Untuk sesaat saya merasakan bahwa ini bukanlah sebuah film action thriller, melainkan drama romantis picisan. Saya mulai mengantuk dan rasanya ingin berteriak, dimana semua aksi seru yang digeber di trailer? Ketika Nathan dan Karen sedang mengerjakan tugas bersama dan menemukan sebuah website orang hilang, ketegangan mulai muncul. Ada foto masa kecil Nathan disana! Jika memang benar itu adalah foto dia, lantas siapa sebenarnya Kevin (Jason Isaacs) dan Mara (Maria Bello) yang selama ini mengaku sebagai orang tuanya? Dua orang tak dikenal lantas menyergap rumah Nathan malam itu juga dan menghabisi Kevin dan Mara. Dengan bantuan dari terapisnya, Geraldine Bennett (Sigourney Weaver), Nathan pun menelusuri masa lalunya.

Baiklah, satu lagi pelajaran penting yang saya dapatkan usai menyaksikan Abduction, jangan pernah memercayai trailer dari film Hollywood. Apa yang saya saksikan ternyata tidak seperti janji-janji yang diobral melalui trailer. Bagi yang Anda yang berminat untuk menyaksikan Abduction, saya sarankan untuk tidak menonton trailer-nya terlebih dahulu. Apa yang tersaji sepanjang 106 menit, hampir separuhnya sudah saya lihat melalui trailer-nya. Saya tidak lagi terperangah menontonnya, justru saya berulang kali mengintip arloji dan mengeluh, kapan film ini akan selesai? Agak mengejutkan Singleton dan Christensen tidak menghadirkan Abduction sebagai sebuah film aksi dengan ketegangan tiada henti. Menyebut Nathan Harper sebagai versi remaja dari Jason Bourne adalah sebuah kesalahan. Alih-alih menggedor jantung, Abduction malah membosankan dan menggelikan. Naskahnya sangat dangkal dan mudah ditebak sementara dialognya datar, cheesy dan sesekali terdengar bodoh. Bahkan film spionase remaja ringan semacam Agent Cody Banks dan Stormbreaker masih lebih menyenangkan untuk diikuti ketimbang Abduction.

Dengan minimnya adegan aksi yang seru, maka Abduction mau tak mau bertumpu pada akting para pemainnya karena naskahnya yang amburadul jelas tak bisa menjadi penyelamat. Sialnya, departemen akting pun tak memberikan sumbangsih yang baik. Taylor Lautner terlihat kesulitan mendalami perannya sedangkan Lily Collins membuat saya ingin menangis melihat aktingnya. Apakah saya sedang menyaksikan behind the scene dari sebuah pemotretan yang dikemas dalam bentuk film layar lebar? Kehadiran para aktor senior macam Alfred Molina, Sigourney Weaver, Jason Isaacs dan Maria Bello sama sekali tidak membantu. Bahkan ironisnya dua nama terakhir sekadar numpang lewat saja. Motif mereka dalam berpartisipasi meramaikan Abduction pun seketika dipertanyakan. Dengan sinematografi yang biasa saja dan soundtrack yang meh, membuat Abduction melaju kencang menuju Razzie Awards 2012. Hampir tak ada yang bisa dibanggakan dari film ini. Bisa tayang di bioskop secara luas saja sudah bersyukur banget. Sayang sekali memang karena sejatinya Abduction berpotensi menjadi sebuah film action yang menarik. Penanganan Singleton yang buruk dan lemahnya naskah Christensen menjadikan Abduction sebagai sebuah film action yang membosankan dan terasa seperti versi parodi dari The Bourne Identity. Namun seburuk apapun film ini, fans Taylor Lautner kemungkinan besar masih akan tetap mencintainya.

REVIEW By Rizal
Bad Point


- Naskahnya sangat dangkal dan mudah ditebak sementara dialognya datar, cheesy dan sesekali terdengar bodoh.
- Dengan sinematografi yang biasa saja dan soundtrack yang meh, membuat Abduction melaju kencang menuju Razzie Awards 2012.



The Sorcerer and the White Snake (2011)

Written By Regina Kim on Friday, December 16, 2011 | 4:54 AM





CAST & CREW
Director: Ching Siu-Tung
Producer: Chui Po-Chu
Starring: Jet Li,Eva Huang,Raymond Lam,Charlene Choi,
Vivian Hsu,Wen Zhang,Miriam Yeung,Sonja Kwok,





Alur Cerita/Sinopsis/Preview

Legenda si Ular Putih. Siapa yang tidak mengenal kisah dongeng yang berasal dari negeri Tiongkok ini? Mulai dari panggung tonil, theater, sandiwara hingga tentu saja layar perak dan serial televisi. Mungkin masih ingat dengan serial fenomenal White Snake Legend yang dulu ditahun 90-an diputar di salah satu stasiun televisi swasta? Serial berupuluh-puluh episode itu rasanya cukup lengkap dalam menggambarkan kisah klasik ini. Meski begitu, satu yang paling berkesan sebenarnya adalah versi film karya Tsui Hark yang berjudul Green Snake (1993), dimana sutradara kawakan tersebut merangkai sedemikan rupa dongeng ini menjadi sebuah film art-house yang sangat berkesan. Meski film lebih menitik beratkan pada karakter si ular hijau yang diperankan oleh Maggie Cheung, namun secara garis besar film masih berada dalam koridor dongengnya.

Kini, sutradara dan koreografer laga beken asal Hong Kong, Tony Ching Siu-tung (A Chinese Ghost Story, Swordsman II) berniat mengangkat kembali dongeng tersebut dan mengupdatenya dalam konteks yang lebih mutakhir dalam sebuah film yang berjudul The Sorcerer and The White Snake (Bái Shé Chuán Shuō Zhī Fǎ Hǎi – 白蛇傳說之法海). Tentu saja dengan keberadaan nama Jet Li sebagai aktor utama, jelas film mengindikasikan bahwa laga akan mendapat porsi yang utama dari keseluruhan jalinan ceritanya. Dan tampaknya memang Tony berniat untuk mengeksploitasi Li dengan maksimal, sehingga mayoritas adegan yang harus dijalani Li mengharuskan dirinya untuk terlibat dalam pertarungan atau adegan yang membutuhkan kemampuan fisik lainnya. Kabarnya Li sempat mengeluh karena adegan tarung yang dilakukan serasa tiada berkesudahan.

Namun, Li bukan hanya atraksi utama The Sorcerer and the White Snake, karena film juga menjadi ajang pamer efek khusus yang tampaknya dikerjakan dengan serius dan maksimal. Meski harus diakui kualitas CGI yang ditawarkan oleh film ini terasa agak kurang halus dan mentah, namun setidaknya mampu memberi kesan megah dan menakjubkan yang ingin dikejar oleh Tony.

Nah, disinilah kemudian letak masalahnya. Demi adegan laga dan efek khusus yang spektakuler, Tony agak sedikit mengorbankan jalan ceritanya. Secara umum, kisahnya masih dalam garis merah yang sama, sepasang siluman ular, putih dan hijau, bernama Pai Su-chen (Xu Xu dalam versi film ini) dan Siau Qing (Qing Qing) berkenalan dengan seorang pria lugu bernama Xi Xian. Xu Xu dan Xu Xian kemudian saling jatuh cinta dan memutuskan untuk menikah. Sampai Fahai, seorang rahib sakti mengetahui hal ini dan kemudian mencoba memisahkan mereka.

Terlepas dari unsur fantasi dalam kisahnya, hakekatnya kisah si Ular Putih adalah sebuah cerita yang romantis, sehingga kebanyakan interprestasi memang lebih menekankan pada romansa dan juga tragedi dalam kisahnya. Bisalah disebutkan bahwa keindahan cinta sejati dalam dongeng ini sebagai tandingan kisah Romeo dan Juliet buah karya Shakespeare. Tony Ching sendiri tentu bukan nama asing dalam romantisme-fantasi seperti ini karena telah menghasilkan karya yang kini dianggap klasik, A Chinese Ghost Story (1987). Kisah cinta si pelajar miskin Ning Tsai-Shen (Leslie Cheung) dan si hantu jelita, Hsiao-Tsing (Joey Wong, yang juga berperan sebagai Pai Su-chen dalam Green Snake), terasa begitu dramatis dan juga menggetarkan.

Oleh karenanya tidak heran jika The Sorcerer and the White Snake juga mempunyai momen-momen romantisnya sendiri. Apalagi Eva Huang (Kung Fu Hustle) cukup cantik dalam menerjemahkan karakter si ular putih ini. Koneksi kimianya dengan Raymond Lam yang berperan sebagai Xu Xian terjalin dengan cukup kuat. Tony Ching juga masih tanggap dalam membangun kekikukan yang terjalin dalam hubungan kasih mereka, sehingga kita merasa gregetan dan gemas.

Sayangnya, kisah mereka justru kemudian harus dianaktirikan, karena harus mengalah pada ambisi Tony dalam memberi adegan laga dan fantasi yang maksimal, sehingga kebanyakan adegan dibangun untuk dapat menggambarkan hal tersebut. Pada akhirnya kisah kasih ini menjadi termarginalisasi dan hanya basa-basi. Diringkas sedemikian rupa, sehingga pesan subtil yang seharusnya terdapat dalam materi aslinya, nyaris tidak teraba lagi. Bahkan karakter Qing Qing yang diperankan oleh Charlene Choi seolah menjadi gimmick untuk unsur komedi belaka.

Dan jangan kaget jika melihat adegan yang menampilkan kura-kura atau tikus yang berbicara layaknya manusia. Mungkin tujuan Tony hanya ingin memberi penekanan pada ranah siluman yang terdapat dalam dongengnya, namun malah tidak membaur dengan baik dan seolah-olah berasal dari film yang berbeda, karena lebih condong sebagai karakter yang komikal ketimbang sebagai sosok yang utuh. Oleh karenanya jangan mengharapkan ada perkembangan karakter yang signifikan disini, karena mereka semua hadir memang tidak lebih sebagai alat untuk penggerak ceritanya belaka.

Meski begitu, The Sorcerer and the White Snake adalah sebuah film yang menghibur. Hanya saja ini bukanlah versi mutakhir yang bisa menggantikan film-film versi lawasnya, karena mereka bahkan hadir dengan lebih kuat. Dibuka dengana degan spektakuler, dimana Fahai melawan seorang siluman perempuan (Vivian Hsu, dalam cameo khusus), dan juga kemudian banyak siluman peremnpuan lainnya (heran, mengapa semua siluman pengganggu manusia harus berjenis kelamin perempuan yah?), jelas kalau film tidak memilih pendekatan yang subtil. Sejatinya ia memang tak lebih dari sebuah fantasi-laga yang menginginkan untuk menghibur kita sebagai penonton. Tidak lebih.

Real Steel (2011)


 


CAST & CREW
Director: Shawn Levy
Producer: Josh McLaglen,Mary McLaglen,Steven Spielberg
Starring: Anthony Mackie,Dakota Goyo,Evangeline Lilly,Hugh Jackman,Kevin Durand






Alur Cerita/Sinopsis/Preview

Aturannya kurang lebih masih sama dengan tinju konvensional yang sering kita lihat, hanya saja dalam Real Steel olahraga keras ini sudah dimodifikasi sedemikian rupa oleh sutradara dwilogi Night at Museum, Shawn Levy menjadi pertarungan yang jauh lebih keras, lebih brutal, tanpa ampun bahkan kalau perlu sampai mati, apalagi hebatnya tinju masa depan itu bukan olahraga ilegal karena saat itu ada para robot rakasasa yang tidak punya rasa sakit untuk menggatikan manusia ujuk gigi di atas ring.

Adalah Charlie Kenton (Hugh Jackman), mantan pentinju dengan masa lalu pahit yang kini beralih profesi menjadi ‘promotor’ tinju robot kecil-kecilan yang berkelana dari satu kota ke kota lain hanya untuk sekedar menghancurkan robot-robotnya, membuatnya terbelit lebih banyak hutang, bahkan hubungannya dengan Bailey Tallet (Evangeline Lilly), temannya sejak kecil yang juga pemilik sasana tinju menjadi renggang. Tapi masalah terbesarnya baru muncul ketika pada suatu hari seseorang dari masa lalu yang terlupakan hadir kembali di kehidupannya. Ya, orang itu adalah Max (Dakota Goyo), bocah 10 tahun yang tidak lain tidak bukan adalah putra kandungnya sendiri yang kemudian memaksanya untuk melatih sebuah robot rongsokan bernama Atom untuk dijadikan robot petarung.

Tahun ini setelah sekuel kedua Transformers yang sempat menghebohkan itu ada Real Steal yang kembali menghadirkan pertarungan apik robot-robot besi rakasasa. Walaupun keduanya sama-sama beraliran ‘robot’ dan diproduseri oleh seorang Steven Speielberg, tapi Real Steel jelas berbeda dengan sci-fi milik Michael Bay itu. Bisa dibilang menonton Real Steel 2x lipat jauh lebih menyenangkan dan menghibur ketimbang melihat duel Autobots dan Decepticons yang membosankan itu. Shawn Levy yang selama ini kerap menghadirkan film-film spesialis komedi ternyata begitu piawai menghadirkan rangkaian momen adu jotos super dahsyat antara sesama ‘kaleng besi’ raksasa itu di atas ring tinju super besar yang dipenuhi ciptratan oli dan kerusakan dimana-mana dalam bakutan visual efek dan robot-robot animatorik seberat 500 Kg yang keren. tidak hanya itu, ia juga memberinya ‘hati’ dalam kisahnya yang diadaptasi dari “Steel” sebuah cerita pendek yang berusia setengah abad lebih itu.

Banyak drama sentimentil menarik disini yang kemudian mendapatkan porsi seimbang di sepanjang 110 menit dengan adegan-adegan aksinya. Ada tema perjuangan bangkit dari keterpurukan, pencarian jati diri dan penebusan dosa seorang manusia, from zero to hero layaknya kebayakan film bertema olarhaga, road movie yang diisi oleh hubungan ayah-anak dengan chemistry kuat antara Jackman dan Dakota Goyo yang tampil luar biasa mampu berperan sebagai ‘”sparring patner” seimbang Jackman dalam wujud si bocah kecil Max, juga ada sedikit romansa dengan si cantik Evangeline Lilly, sayang aktris serial televisi populer, ‘Lost’ ini pada akhirnya tidak mendapatkan peran yang terlalu signifikan karena tampaknya Levy ingin memfokuskan segalanya pada trio Jackman-Goyo-Atom. Khusus untuk Atom, Levy tampaknya tahu benar bagaimana menciptakan sosok robot simpatik, jauh dari kesan kuat dan canggih seperti lawannya, Zeus, bahkan Levy mampu memberikan ‘jiwa’ tak terlihat dalam diri robot tua itu dengan cara yang elegan, tanpa harus memaksanya berbicara, cukup hanya dengan sedikit gerakan tarian hip-hop atau sekedar tatapan mata birunya. Ya, Atom hanyalah robot ‘teman berlatih’ generasi kedua yang dibawa Max dari tempat rongsokan, seakan-akan ia menjadi sebuah metafara untuk mewakili bahwa terkadang keberanian itu jauh lebih powerfull dari besi paling kuat sekalipun.

Naskah yang ditulis John Gatins memang klise dan ringan, tapi setidaknya mampu bekerja efektif, khususnya di setengah perjalanannya Real Steel di buka dengan sangat baik, tidak terlalu terburu-buru di saat memperkenalkan karakter-karakternya, termasuk adegan duel pembukaan antara Ambush vs. Banteng yang menarik itu, atau atau disaat Noisy Boy diluluhlantakan olwh Midas. Sayang menjelang akhir kisah Real Steel bergerak terlalu cepat dan terkesan dipaksakan karena keterbatasan durasi, untung saja kelemahan itu mampu ditutup Levy dengan adegan pertarungan final antara Atom vs Zeus yang spektakuler, membuat saya dan mungkin sebagian penontonnya ikut menahan nafas, merasakan emosi dan atamosfer luar biasa disaat dua ‘boneka’ metal keren ini bertukar puluhan jab, hook dan uppercut ala petinju profesional di setiap ronde-ronde mendebarkannya, yang disertai dengan iringan musik latar Danny Elfman yang mampu menghadirkan mood booster luar biasa. Dan tentu saja seperti kebanyakan film-film bertema olahraga lainnya, Real Steel akan diakhiri oleh bunyi bel tanda berakhirnya pertandingan dengan dua kemungkinan besar, antara kemenangan super dramatis atau sebuah kekalahan terhormat, yang mana itu? Tunggu saja sampai anda melihatnya sendiri nanti.

Pada akhirnya saya akan menyebut ” Real Steel is Rocky with robots”. Ia tidak melulu bercerita soal robot yang saling menghacurkan dengan disertai sugguhan spesial efek canggih beserta adegan-adegan aksinya yang dahysat dan menghibur, namun Shawn Levy sudah memberinya ‘jiwa’ dalam balutan kisah hubungan ayah-anaknya yang menyentuh. Walaupun sedikit ‘babak belur’ di penghujung ceritanya, Real Steel tetap adalah sebuah tontonan yang menarik, sulit rasanya untuk melewatkan film yang kisahnya bahkan mampu ‘meng-TKO’ kan Optimus Prime sekalipun sejak ‘ronde’ pertama dimulai.

Green Lantern (2011)

 

CAST & CREW

Director: Martin Campbell
Producer: Donald De Line,Greg Berlanti
Starring: Ryan Reynolds,Blake Lively,Peter Sarsgaard
Mark Strong,Tim Robbins,Taika Waititi,Temuera Morrison,Angela Bassett




Alur Cerita/Sinopsis/Preview

Bahkan dengan keberadaan empat orang penulis naskah yang mencoba untuk mengadaptasi kisah dari sebuah seri komik yang telah diterbitkan semenjak tahun 1940, Green Lantern terasa bagaikan sebuah film yang hadir dengan naskah cerita yang begitu dangkal. Masalah utama dari naskah cerita yang disusun oleh Greg Berlanti, Michael Green, Marc Guggenheim dan Michael Goldenberg ini adalah mereka seperti mencoba untuk memadukan seluruh formula yang biasanya ditemukan dalam film-film bertema
superhero ke dalam satu susunan naskah cerita. Sayangnya, hal itu kemudian berjalan dengan buruk ketika mereka seperti lupa untuk membangun karakterisasi setiap tokoh dengan baik, plot cerita yang menarik serta alur cerita yang memikat. Ketika permasalahan itu semakin diperburuk oleh sutradara Martin Campbell (Edge of Darkness, 2010) yang sepertinya lebih tertarik untuk menampilkan kekuatan special effect daripada jalan cerita, jadilah Green Lantern terasa bagaikan sebuah perjalanan panjang yang datar dan cenderung membosankan untuk diikuti.

Green Lantern akan memperkenalkan penontonnya pada karakter Hal Jordan (Ryan Reynolds), seorang pilot yang bekerja untuk menguji setiap pesawat yang dihasilkan oleh perusahaan Ferris Aircraft. Walaupun seringkali terlihat sebagai seorang pria yang penuh percaya diri dan hampir tidak mengenal ketakutan apapun – sebuah keberanian yang sering ditunjukkannya ketika ia sedang menerbangkan pesawatnya – Hal memiliki luka mendalam akan kenangan sang ayah yang tewas secara mengenaskan di hadapannya ketika ia juga sedang menerbangkan sebuah pesawat. Masa lalu yang kelam tersebut sedikit banyak mempengaruhi Hal yang tumbuh menjadi pria yang begitu takut akan arti sebuah tanggung jawab dalam hidupnya.

Well… hal tersebut akan berubah ketika sebuah kekuatan datang dan membawa Hal ke hadapan Abin Sur (Temuera Morrison), salah seorang anggota korps Green Lantern yang bertugas untuk menjaga perdamaian alam semesta. Abin Sur – yang merupakan salah satu anggota Green Lantern yang paling dihormati – berada dalam kondisi yang kritis setelah pesawat yang ia bawakan diserang oleh Parallax (Clancy Brown), seorang mantan anggota Green Lantern yang kini lebih memilih untuk menyeberang ke sisi kegelapan. Tak ingin kekuatannya terbuang, Abin Sur lalu menyerahkan cincin kekuatannya pada Hal, yang secara otomatis kemudian membuat Hal menjadi anggota Green Lantern terbaru dan menggantikan posisi Abin Sur.

Hal, yang sama sekali tidak pernah mengenal kata tanggung jawab di sepanjang hidupnya, jelas merasaa terbebani akan tugas barunya tersebut. Namun, Hal mau tidak mau harus memanfaatkan kekuatan yang ia miliki ketika ia menyadari bahwa Parallax berniat untuk menyerang Bumi dengan menebarkan teror ketakutan yang mendalam pada setiap warganya. Di sisi lain, Hal juga harus berhadapan dengan Dr Hector Hammond (Peter Sarsgaard), seorang pria yang juga memiliki masa lalu kelam yang telah lama tidak menyukai Hal karena selalu menghalangi usahanya untuk mendapatkan cinta Carol Ferris (Blake Lively). Dr Hammond baru saja terkontaminasi oleh kekuatan Parallax ketika ia mengidentifikasi jasad Abin Sur, yang kini membuatnya memiliki kekuatan gelap dan akan dimanfaatkannya untuk merebut kembali semua hal yang selama ini tidak dapat ia raih ketika hanya menjadi manusia biasa.

Sayangnya, bahkan dengan penjelasan mengenai plot cerita yang mungkin terdengar sedikit kompleks diatas, Green Lantern gagal memadatkan setiap bagian cerita untuk kemudian menghadirkan sisi menarik dari sebuah kisah lama mengenai pertarungan antara karakter protagonis dengan karakter antagonis – yang jelas-jelas juga semenjak lama telah diketahui siapa pemenangnya. Cukup disayangkan, sebenarnya, karena Green Lantern setidaknya memiliki potensi yang baik yang datang dari jajaran pemerannya. Mulai dari Reynolds, Lively, Sarsgaard hingga pemeran pendukung seperti Tim Robbins dan Mark Strong terlihat sangat pas untuk memerankan karakter yang mereka bawakan.

Karakterisasi dari peran merekalah yang menjadi masalah besar dan membuat akting prima yang mereka tampilkan terasa menjadi sia-sia belaka. Lihat bagaimana empat penulis naskah Green Lantern menggambarkan karakter seorang Carol Ferris. Terlepas dari penggambaran bahwa ia adalah seorang wanita pemberani yang terlihat cerdas, perannya di Green Lantern tidak lebih dari sekedar pengisi posisi sebagai kekasih sang superhero. Tidak lebih. Karakter Hal Jordan juga digambarkan begitu bertele-tele. Hal sebenarnya bukanlah seorang karakter yang kompleks. Ia terlihat easygoing walaupun dengan masa lalu kelam yang kerap menghantuinya serta kelakuan yang sering membuatnya terasa sukar untuk dijadikan sosok idola. Penggambaran bagaimana buruknya karakter Hal Jordan berlangsung cukup dalam sehingga walaupun Hal kemudian diceritakan telah mendapatkan kekuatan super, penonton sepertinya akan sulit mempercayai bahwa karakter tersebut memiliki kekuatan untuk dapat merubah dirinya sendiri menjadi seorang yang lebih baik.

Jika ada karakter yang terlihat begitu menarik pada Green Lantern, maka karakter tersebut adalah karakter Dr Hector Hammond yang diperankan oleh Peter Sarsgaard. Sama halnya dengan karakter Hal Jordan, karakter Dr Hammond memiliki masa lalu yang kelam. Oleh ayahnya, ia sering diperlakukan bagaikan hasil produksi yang gagal dan sama sekali tidak pernah dihargai. Ini yang membuat jalan pemikiran Dr Hammond begitu kelam… yang membuat sisi kegelapannya begitu menggelora ketika ia mendapatkan kekuatan yang menyaingi kemampuan Hal Jordan sebagai anggota Green Lantern. Jika saja fokus karakter antagonis dihadirkan hanya pada karakter Dr Hammond – dengan tanpa memberikan karakter Parallax jalan cerita yang lebih besar – maka mungkin karakter Dr Hammond dapat dikembangkan menjadi satu karakter antagonis yang lebih kelam dan lebih memorable.

Selain fokus cerita yang berlangsung pada setiap karakternya, Green Lantern juga memiliki beberapa cerita pendukung yang berlatar belakang di beberapa tempat seperti Bumi dan planet Oa, dimana markas para Green Lantern berada. Kehadiran beberapa lokasi latar belakang cerita memang dimaksudkan untuk lebih memperkenalkan penonton pada fondasi cerita Green Lantern, khususnya pada mereka yang belum pernah menikmati dan mengenal seri komik ini sebelumnya. Sayangnya, dengan penggambaran yang tidak begitu handal, kisah-kisah pendukung yang dihadirkan justru terkesan tidak berguna dan membuang-buang waktu.

Keberhasilan Martin Campbell atas beberapa seri James Bond yang pernah ia tangani sepertinya akan menjadi modal yang cukup besar baginya untuk dapat menghadirkan rangkaian kisah dengan penuh adegan aksi yang memikat pada Green Lantern. Sayangnya, hal tersebut tidak begitu mampu tereksplorasi dalam film ini. Pengarahan Campbell sama sekali tidak memberikan pengaruh yang signifikan akibat ketiadaan sesuatu yang istimewa yang dapat dirasakan dari jalan cerita film ini. Usaha Campbell dalam menghadirkan tata special effect yang kuat mungkin cukup berhasil. Namun tetap saja hal tersebut tidak akan mampu menutupi sepenuhnya kelemahan yang telah hadir dari sisi penulisan naskah.

Cukup disayangkan memang, sebuah franchise yang terlihat akan mampu tampil meyakinkan – khususnya dengan jajaran departemen akting yang mampu menghidupkan karakter yang mereka perankan dengan baik – ternyata tidak lebih dari sekedar kisah pertarungan antara karakter baik melawan karakter jahat yang dihantarkan dengan begitu sederhana terlepas dari usaha untuk menghadirkannya dengan tata special effect yang kuat. Jelas, naskah yang tidak cukup kuat memberikan andil penuh akan hal ini. Empat penulis naskah yang ada sepertinya gagal untuk menghadirkan sebuah elemen penceritaan yang istimewa dan terjebak pada berbagai formula dasar kisah penceritaan mengenai petualangan seorang superhero. Sebuah kesempatan pertama untuk dapat memikat penonton dengan kehadiran seorang superhero baru… namun gagal dilakukan dengan baik.

Legendary Amazons (2011)

 


CAST & CREW
Director: Frankie Chan
Producer : Jackie Chan
Starring : Cecilia Cheung,Richie Ren,Zheng Peipei,Liu Xiaoqing,Zhou Haimei



Alur Cerita/Sinopsis/Preview


Ditengah maraknya film-film epik Mandarin yang banyak beredar saat ini, menyelip Legendary Amazons (楊門女將之軍令如山 / Yang Men Nu Jiang Zhi Jun Ling Ru Shan) diantaranya. Menarik, karena terdapat nama Jackie Chan dibelakangnya yang menjabat sebagai salah seorang produser dan diarahkan oleh sutradara /penata musik/aktor veteran seperti Frankie Chan dan menampilkan bintang-bintang pendukung yang tak kalah seniornya; sebut saja Cheng Peipei, sang mantan ratu silat era Shaw Brothers atau Cecilia Cheung yang muncul kembali setelah cukup lama absen dan kembalinya aktris TVB populer Kathy Chow Ha-mei dan aktris laga kampiun era 80-90an, Oshima Yukari. Jangan lupakan pula biduan/aktor populer Taiwan, Richie Ren, yang memegang salah satu peran penting di dalamnya.

Diatas kertas, Legendary Amazons memiliki materi yang meyakinkan. Meski mengingatkan akan film The 14th Amazons yang merupakan produksi Shaw Brothers di tahun 1972, namun sebenarnya film berkisah atas salah satu epos negeri Tiongkok yang terkenal, yaitu kisah keluarga Yang, para pejuang pembela kerajaan Song dari ancaman musuh asing yang mencoba menginvasi. Tentu saja film ini bukan merupakan satu-satunya hasil adaptasi dari kisah klasik tersebut (sebutlah film-film SB seperti The 14th Amazons dan Invicible Pole Fighter atau serial-serial kolosal TVB, Young’s Female Warrior dan The Yang’s Saga), juga bukan yang pertama mengambil pendekatan yang berbeda dari materi aslinya. Menjadi menarik saat sudut pandang bercerita justru diambil dalam perspektif para perempuan dari keluarga Yang.

Keluarga bangsawan ini memang memiliki reputasi sebagai para tentara tangguh, tidak hanya kaum lelakinya, namun juga para perempuannya. Mereka memiliki ketrampilan yang sangat tinggi dalam berlaga di medan perang dan juga sangat cemerlang dalam menyusun strategi. Saat Yang Zongbao, yang merupakan salah seorang pria anggota keluarga tersebut yang tersisa dikabarkan tewas, maka mau tidak mau, putranya yang masih berusia remaja harus menggantikan dirinya di medan perang. Sang istri, Mu Guiying (Cecilia Cheung), tentu saja tidak rela jika anak mereka harus mati sia-sia dengan begitu saja, mengingat pengalaman tempurnya yang minim. Maka, bersama sejumlah perempuan yang tersisa di keluarga Yang, mereka maju merengsek musuh dan membela kehormatan keluarga mereka.

Dengan semangat emansipasi yang besar, Legendary Amazons menampilkan para perempuan ini secara gagah perkasa, ulet, tangkas namun juga tak kehilangan feminitas mereka. Selain memiliki kemampuan menyusun strategi yang cemerlang, mereka perempuan-perempuan tangguh yang tak takut akan maut dan bertempur dengan sangat gagahnya seperti kaum pria, namun juga tak canggung untuk meluapkan emosi mereka. Tentu saja, di dalam perang, maut juga tidak memandang jenis kelamin, sehingga kematian menggenaskan pun harus disambut dengan tanpa pamrih jika memang menjelang.

Sentra film sebenarnya terdapat pada sosok Mu Guiying. Sosok yang awalnya merupakan pihak luar di keluarga Yang, namun kemudian menggambil tampuk pimpinan demi menjaga reputasi keluarga tersebut. Semua dilakukan karena kecintaanya terhadap sang suami, yang sudah tidak ditemuinya selama delapas belas tahun, karena bertugas di perbatasan. Guiying digambarkan sebagai karakter yang tegas, ulet dan berkepala dingin. Ia bahkan tak segan-segan bersikap keras terhadap putra satu-satunya yang juga keturunan terakhir keluarga Yang demi kepentingan perang. Namun, di sisi lain ia diperlihatkan sebagai sosok rapuh yang memendam rindu tak berkesudahan dengan suami dan lemah lembut kepada sesama.

Sayangnya, Legendary Amazons tak semegah yang didengungkan. Meski para perempuan keluarga Yang ditampilkan dengan keunikannya masing-masing, namun plot berjalan dengan cukup konyol. Entah disengaja atau tidak, selalu ada hal-hal yang membuat situasi malah cenderung jatuh dalam suasana yang karikatural. Kita tidak bisa merasakan determinasi yang kuat, saat film lebih memilih untuk mengglorikasi para perempuan Yang dalam cara berlebihan. Nama-nama kurang populer yang mengisi peran mereka memang dapat bertanggung jawab secara penuh dalam adegan laga, namun tidak begitu saat harus menghadirkan emosi dalam karakternya.Bahkan Cecilia Chung dan Richie Ren, yang reuni setelah Fly Me To Polaris, (1999) pun tak berhasil memberi akting yang meyakinkan, konon lagi munculnya reaksi kimia antara karakter mereka seperti yang diharapkan. Seolah-olah mereka kerja rodi dengan memberikan akting pas-pasan demi selembar cek gaji.

Treatment yang dihadirkan oleh Frankie Chan pun lebih mirip untuk serial televisi panjang, ketimbang sebuah film fitur yang solid. Editing yang cukup buruk membuat alur mundur-maju, sebagai preposisi kisah, malah membuat filmnya terkesan melompat-lompat. Penonton yang kurang awas bisa jadi akan merasa bingung. dalam mengikuti narasinya Ujung-ujungnya, film seolah-olah menjadi sebuah ringkasan yang kurang komprehensif. Sebenarnya ada beberapa hal yang dapat menjadi menarik, asal saja Chan tidak terlalu fokus pada upaya menjadikan Legendary Amazons sebagai sebuah popcorn flick belaka. Film ini memiliki dinamika kisah yang kaya, mulai dari patriotisme, kemandirian secara sosial sampai ide lesbianisme yang telah ditampilkan secara implisit. Sayangnya, tidak satupun ditampilkan dengan utuh, selain sebagai atribut untuk mempertebal kisah tipisnya.

Pada dasarnya, Legendary Amazons adalah sebuah film yang terlena dalam menjaga kualitas saat mengejar esensi hiburannya. Setiap rangka dalam struktur bangun tubuhnya dirangka untuk memuaskan selera komersil. Namun, terlepas dari itu, kalau kita mau melepas ekspektasi dan juga membebaskan otak dalam menyimaknya, Legendary Amazons ternyata cukup menyenangkan untuk disaksikan. Segala kekurangannya ternyata dapat pula menjadi sebuah bentuk tontonan, yang meski banal, namun ternyata mampu menghibur.

Final Destination 5 (2011)

Written By Regina Kim on Thursday, December 15, 2011 | 9:44 PM




Cast : 
Nicholas D'Agosto as Sam Lawton
Emma Bell as Molly Harper
Miles Fisher as Peter Friedkin
Ellen Wroe as Candice Hooper
Jacqueline MacInnes Wood as Olivia Castle
P. J. Byrne as Isaac Palmer
Arlen Escarpeta as Nathan Sears
David Koechner as Dennis Lapman
Courtney B. Vance as Agent Jim Block
Tony Todd as William Bludworth
Brent Stait as Roy Carson

Alur Cerita/Sinopsis/Preview

Cerita pun sekarang berganti lagi yaitu ada hubungannya sama jembatan runtuh. Sam, Molly, Peter, Candice, Olivia, Isaac, Nathan, Dennis dan 17 karyawan lainnya berniat melakukan retret bersama. Namun kematian yang seharusnya menimpa mereka dengan sangat beruntung mereka terhindar berkat bantuan dari Sam yang memiliki penglihatan kematian tersebut. Setelah kematian 17 orang karyawan lainnya tersebut, permainan kematian satu per satu kepada 8 orang tersebut pun dimulai…..

Aksi Final Destination kayaknya tidak pernah bosan untuk dinikmati bagi pecinta tipe film seperti ini! Sebelum menonton film ini jangan berharap anda akan mendapatkan cerita yang masuk akal dengan jalan cerita kematian yang menimpa para pemain. Semua itu akan membuang energi kalian saja nantinya! Jadi ketika menonton film ini anggap saja ketika haus hiburan dari sebuah film. Akan tetapi disarankan bagi yang punya penyakit parno sama darah dan benda-benda tajam sebaiknya tidak menonton film ini. Untuk lebih jelasnya yuk simak review berikut ini tentang film Final Destination 5.

Bisa dibilang Final Destination 5 adalah debut dari Steven Quale sebagai seorang sutradara film layar lebar. Sebelumnya beliau berpengalaman ke bidang asisten sutradara, konon film-filmnya cukup sukses loh diantaranya Titanic dan terakhir Avatar. Sebagai langkah debut, bisa dibilang juga Steven Quale cukup berhasil membuat film Final Destination 5 dengan lokasi tempat kejadian yang berbeda walaupun tetap dengan plot yang sama. Disini mungkin unsure kesadisan dari cerita Final sendiri tidak begitu sadis dan membuat ngilu ya dibandingkan cerita Final sebelum-sebelumnya. Entah apa karna faktor adanya potongan dari Badan Sensor Filmkah? Tapi gue disini ketika menonton filmnya yang berformat 3D pun tidak merasakan sesuatu yang ngilu sekali.

Kematian-kematian yang ditimbulkan dari film ini terkesan jauh lebih halus dan bermain aman. Kenapa gue bilang bermain aman? Karena ada beberapa bagian yang gue berharap sesuatu yang lebih eh ternyata tidak terjadi. Padahal ketika sebelum kejadian itu berlangsung sudah ada semacam pembuka bahwa bakal ada sesuatu yang menarik nih nanti pada saat salah satu kematian tersebut. Walaupun agak kecewa sedikit tapi untungnya efek visual 3 Dimensi yang dihadirkan film ini begitu menolong semua itu. Kualitas 3Dnya pun dibandingkan seri Final Destination 4, disini jauh lebih baik. Cipratan-cipratan darah dan benda-benda tajam akan menghiasi kacamata 3D anda sepanjang 82 menit film ini berlangsung.

Ada yang menarik dari film ini yaitu Final Destination 5 ada hubungannya dengan cerita salah satu dari keempat Final Destination sebelumnya. Untunglah hubungan cerita untuk mengaitkan hal tersebut dibuat begitu agak sedikit masuk akal lah. Akhir kata, Final Destination hanya menang dari segi penampilan kemasan efek 3 Dimensi saja. Lupakanlah dari segi cerita karena tetap saja plotnya dengan kisah-kisah Final Destination sebelumnya. Belum lagi para pemain disini pun terlihat sekali tampil biasa sekali. Sebut saja, Nicholas D'Agosto, Emma Bell, Tony Todd, Courtney B. Vance, Miles Fisher, David Koechner. So tunggu apalagi untuk menyaksikan sendiri aksi dari kematian-kematian yang tidak bisa dielakkan oleh para pemain disini namun disini lebih dahsyat karena efek 3D yang memuaskan! We want more another Final destination!!! (By Josep Sibuea)

Pesan Moral : percaya atau tidak your destiny is in your hand...survive it ^_^

TWILIGHT - BREAKING DAWN PART 1 (2011)


Director: Bill Condon

Writers: Melissa Rosenberg (screenplay), Stephenie Meyer(novel)

Stars: Kristen Stewart, Robert Pattinson and Taylor Lautner


Alur Cerita/Sinopsis/Preview

Breaking Dawn dibagi menjadi tiga bagian terpisah. Rincian bagian pertama pernikahan Bella dan bulan madu dengan Edward, yang mereka habiskan di suatu pulau pribadi, yang disebut Isle Esme, lepas pantai Brasil. Dua minggu ke bulan madu mereka, Bella menyadari bahwa dia hamil dengan seorang anak setengah vampir, setengah manusia dan bahwa kondisinya maju pada tingkat wajar dipercepat. Setelah menghubungi Carlisle, yang mengkonfirmasikan kehamilannya, ia dan Edward segera kembali pulang ke Forks, Washington. Edward, prihatin untuk kehidupan Bella dan yakin bahwa janin seperti itu terus berkembang dengan kecepatan yang tidak wajar, mendesak dia untuk melakukan aborsi. Namun, Bella merasa hubungannya dengan bayi yang belum lahir itu kental sekali dan menolak.
Bagian kedua novel ditulis dari perspektif bentuk-shifter Jacob Black, dan berlangsung selama kehamilan dan persalinan Bella. Yakub Quileute Ktua serigala, tidak tahu apa bahaya anak yang belum lahir dapat menimbulkan bencana atau tidak, berencana untuk menghancurkannya dan membunuh Bella. Yakub protes keras keputusan ini dan daun, membentuk kelompol sendiri dengan Seth dan Leah Clearwater. Janin dalam tubuh Bella tumbuh cepat dan Bella segera melahirkan, tapi bayi sudah berkembang membentuk tulang, termasuk tulang punggungnya, dan dia kehilangan sejumlah besar darah. Dalam rangka untuk menyelamatkan hidupnya, Edward berubah menjadi vampir dengan menyuntikkan racun ke dalam hatinya.
Bagian ketiga bergeser kembali ke sudut pandang Bella, yang menggambarkan transformasi menyakitkan Bella dan menemukan dirinya berubah menjadi vampir dan menikmati kehidupan barunya dan berkemampuan. Namun, Irina vampir misidentifies Renesmee sebagai "anak abadi", seorang anak yang telah berubah menjadi vampir. Karena "anak-anak abadi" yang tidak terkendali, membuat mereka telah dilarang oleh Volturi. Setelah Irina menyajikan tuduhan ke Volturi, mereka berencana untuk menghancurkan Renesmee dan Cullens. Dalam upaya untuk bertahan hidup, Cullens mengumpulkan klan vampir lainnya dari seluruh dunia untuk berdiri sebagai saksi dan membuktikan kepada Volturi bahwa Renesmee bukan anak abadi. Setelah berkumpul Cullen menghadapi sekutu dan saksi, Volturi menemukan bahwa mereka telah salah informasi dan segera mengeksekusi Irina untuk kesalahannya. Namun, mereka tetap ragu-ragu tentang apakah Renesmee harus dipandang sebagai ancaman terhadap keberadaan rahasia vampir '. Pada saat itu, Alice dan Jasper, yang telah meninggalkan sebelum konfrontasi, kembali dengan Mapuche yang disebut Nahuel, 150 tahun blasteran vampir-manusia seperti Renesmee. Nahuel menunjukkan bahwa crossbreeds tidak menimbulkan ancaman, dan meninggalkan Volturi. Edward, Bella, dan Renesmee kembali ke rumah mereka dalam damai.

Pesan Moral : pesan dari cerita ini adalah segala sesuatu yg kita hadapi harus dengan penuh kematangan pikiran jangan memandang masa depan itu dengan sebelah mata dan hanya karena cinta




image host image host image host image host image host image host image host image host image host image host image host image host image host image host image host image host image host image host image host image host image host image host image host image host image host image host image host

Tekken-Blood Vengeance (2011)


#Movie Trailer#


Alur Cerita/Sinopsis/Preview


Plot, yang berlangsung antara peristiwa Tekken 5 dan Tekken 6, dimulai dengan AnnaWilliams menyiapkan umpan untuk adiknya, Nina Williams, yang saat ini bekerja dengan Pemimpin baru dari zaibatsu Mishima, Jin Kazama. Anna, di sisi lain, bekerja untuk ayah Jin,Kazuya Mishima dan organisasi saingannya, G Corporation.Keduanya mencari informasi tentang seorang siswa bernama Shin Kamiya, dan Anna mengirimkan sebagai mahasiswa Ling Xiaoyu Cina untuk bertindak sebagai mata-mata, sementara Jin mengirim robot humanoid Alisa Bosconovitch untuk tujuan yang sama.

Selama investigasi mereka, Xiaoyu dan Alisa bentuk persahabatan, meskipun mereka dipaksa untuk berbalik melawan satu sama lain ketika Shin ditangkap oleh penyerang yang tidak dikenal. Hal ini disini bahwa Alisa diturunkan menjadi robot - meskipun Alisa percaya dia memiliki kualitas manusia seperti kehidupan Xiaoyu itu.Xiaoyu ditinggalkan oleh Anna dan GCorporation, dan dua gadis lari itu dari organisasi sebelumnya, berlindung pada guru mereka, rumah Lee Chaolan. 

Xiaoyu dan Alisa akhirnya menemukan percobaan genetik telah dilakukan pada Shin dan teman-teman sekelasnya, dan percaya bahwa keluarga Mishima mencari Shin, yang selamat satu-satunya, dan subjek gen M, untuk keabadian-Nya. Pasangan ini telah menemukan bahwa pada kenyataannya, rencana rumit telah direkayasa oleh Heihachi Mishima. Setelah Heihachi membuang Shin, dia, Kazuya dan Jin terlibat dalam perkelahian tiga arah. 

Pada akhirnya, Jin adalah pemenang, memanfaatkan kekuatan setannya. Heihachi kemudian merilis roh kuno Mokujins, tapi dikalahkan oleh ledakan akhir serangan oleh Alisa. Jin kemudian meninggalkan, mengatakan bahwa ia menunggu Xiaoyu tantangan masa depan.
 

Film berakhir dengan Alisa dan Xiaoyu kembali di festival sekolah mereka dengan perencanaan pasangan untuk memasuki Raja berikutnya Iron Fist Tournament.

pesan moral : Inti dari cerita anime ini adalah persahabatan sejati antara manusia dan robot, biarpun robot tapi manusia tetap memiliki hati nurani yg saling mengasihi.



CharacterJapanese voice actorEnglish voice actor[5]First Tekken Game
Ling XiaoyuMaaya SakamotoCarrie KeranenTekken 3
Alisa BosconovitchYuki MatsuokaCristina Valenzuela (Cristina Vee)Tekken 6
Shin KamiyaMamoru MiyanoDavid VincentN/A
Kazuya MishimaMasanori ShinoharaKyle HebertTekken
Jin KazamaIsshin ChibaPatrick Seitz (Darren Daniels)Tekken 3
Nina WilliamsAtsuko TanakaMary Elizabeth McGlynn (Charlotte Bell)Tekken
Anna WilliamsAkeno WatanabeTara PlattTekken
PandaTaketoraTaketoraTekken 3
Lee ChaolanRyōtarō OkiayuKaiji TangTekken
GanryuHidenari UgakiPaul St. Peter (George C. Cole)Tekken
Heihachi MishimaUnshō IshizukaJamieson Price (Taylor Henry)Tekken
MokujinN/AN/ATekken 3


Google Translate

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Love and Like Movie - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger