Home » , » THE HEIRS (2014) EPISODE 9-2

THE HEIRS (2014) EPISODE 9-2

Written By Regina Kim on Thursday, December 4, 2014 | 10:24 PM


Drama: The Heirs (2014)
also known : The InheritorsHeritors
The One Trying to Wear the Crown, Bears the Crown – The Heirs
He Who Wishes To Wear the Crown, Endure Its Weight – The Heirs
One Who Wants to Wear the Crown, Bear the Crown – The Heirs
Those Who Want the Crown, Withstand the Weight of it – The Heirs

Genre : Romance,Comedy,Drama,School
Written by Kim Eun-sook
Directed by Kang Shin-hyo
Country of origin South Korea
Originallanguage(s) Korean
No. of episodes 20


CAST : 




SINOPSIS LENGKAP


Entah karena khawatir Eun Sang tak masuk sekolah atau penasaran dengan status Eun Sang, akhirnya Young Do menemukan rumah lama Eun Sang dari form identitas yang diberikan Rachel. 


Tapi rumah itu sekarang sudah kosong dengan kertas tertempel di depan pintu yang tertulis kalau rumah itu disewakan. Young Do menggumam kalau Orang Kaya Baru itu hanya omong kosong belaka.


Seorang ahjumma menyapanya dan bertanya apakah Young Do mencari rumah kontrakan? Dengan sopan Young Do berkata kalau ia mencari rumah temannya, Cha Eun Sang. Ahjumma itu mengatakan kalau Eun Sang sudah pindah ke Pyongchang-dong.


Hyo Sin pulang ke rumah dan ibunya mengatakan kalau guru lesnya sudah datang. Tapi guru les yang baru karena Hyun Joo keluar. Hyo Sin kaget dan bertanya apakah ibu memecat Hyun Joo? Jawab ibu,”Untungnya dia sudah minta keluar dulu sebelum aku memecatnya.”


Hyo Sin tak mempedulikan ajaran guru lesnya itu. Ia malah memotret soal yang dikerjakan gurunya itu, membuat guru lesnya heran. Hyo Sin berkata kalau soal itu tak bisa dikerjakan dengan cara itu. Ia mengirim foto soal itu kepada Hyun Joo dan pada guru lesnya ia berkata, “Aku ini ingin meningkatkan rangking nasionalku. Bukan hanya untuk menjadi nomor satu di kelas.”


Tak berapa lama kemudian, Hyun Joo mengirimkan jawabannya dan Hyun Sik menunjukkan jawaban itu pada guru lesnya. Hyo Sin pun kembali membalas pesan Hyun Joo, Bagaimana mungkin kau keluar tanpa mengucapkan selamat tinggal?


Hyun Joo tak menjawab pertanyaan itu. Ia malah menulis kalau ia akan meng-email file tentang bahan yang belum sempat mereka pelajari dan Hyo Sin bisa menanyainya kapan pun jika Hyo Sin tak mengerti dalam pelajaran. Terlihat jawaban kekecewaan di pesan Hyo Sin setelahnya, Kurasa selamanya aku akan selalu menjadi murid di matamu.”


Hyun Joo menemui Sekretaris Yoon yang menawarkan sebuah pekerjaan di Grup Jeguk. Hyun Joo langsung menangkap kalau begitu ia bekerja, pasti akan muncul artikel yang mempromosikan tentang dirinya, “Anak yang dibesarkan oleh Grup Jeguk, sekarang bekerja di Grup Jeguk. Artikel-artikel seperti itulah yang akan muncul di halaman pertama jika aku meng-google namaku.”


Sekretaris Yoon yang memahami maksud Hyun Joo berkata kalau Hyun Joo bisa menolak tawaran itu. Hyun Joo tersenyum dan berkata kalau ia memang punya hak untuk menolaknya. Tapi mengetahui kalau ini adalah tawaran dari Presdir Kim, ia tak bisa menolaknya. Ia hanya meminta agar Sekretaris Yoon tak memberitahukan hal ini pada Won karena ia sendiri yang akan memberitahukannya.


Pertemuannya dengan Hyun Joo membuat Sekretaris Yoon berpikir keras. Saat sedang mempersiapkan makan malam, ia bertanya pada Chan Young bagaimana kabar Eun Sang di sekolah itu. Chan Young merasa heran karena akhir-akhir ini ayahnya sering bertanya tentang Eun Sang.


Sekretaris Yoon menjawab, “Aku menyekolahkanmu ke SMA Jeguk karena aku ingin kau memiliki koneksi yang bagus dan melihat dunia yang lebih baik lagi. Tapi sekarang aku meragukan keputusanku.”


Chan Young tak mengerti maksud ucapan ayahnya. Tapi ia punya solusi. Bagaimana kalau minum-minum. “Satu gelas saja,” pinta Chan Young manis. Ayahnya berdecak kesal karena anaknya ini menyarankan sesuatu yang bukan anak-anak banget, walaupun, “Baiklah. Tapi segelas saja, ya.”

Chan Young tersenyum menang dan berkata, “Tentu saja. Hanya satu gelas. Masalah nanti baru timbul jika satu menjadi dua.”


Eun Sang akan tutup toko, namun masih tersisa dua pengunjung. Dua orang (siswa SMA walau ketuaan untuk jadi anak SMA) itu juga mulai mengganggu Eun Sang dengan berkata kalau ada rambut di dalam gelas. Eun Sang memeriksa gelas itu, tapi tak ada rambut di dalamnnya. Ternyata itu hanya trik kedua murid itu untuk meminta nomor telepon Eun Sang.


Eun Sang mulai marah setelah salah satu siswa itu memegang tangannya dan memaksanya untuk memberi nomor teleponnya. Ia mengancam akan melaporkan mereka ke polisi karena semua kejadian ini terekam oleh CCTV. Namun terdengar suara, “Polisi telah datang!”

Belum sempat mereka menoleh untuk melihat siapa polisi itu, si polisi sudah menendang kursi yang diduduki si pengganggu itu hingga anak itu terjerembab. Eun Sang kaget melihat siapa polisi itu. Aww… ternyata Young Do.


Young Do senang karena mengenali kedua pengganggu, “Ahh.. sudah lama kita tak bertemu. Ini adalah pertama kali kita bertemu lagi sejak SMP, kan?” Young Do mengulurkan tangannya untuk bersalaman. Tapi anak itu ketakutan saat melihat Young Do. Buru-buru ia menolong temannya bangun dan mereka segera kabur.

Haha.. dan wow! Jadi berapa banyak sebenarnya anak yang dibully oleh Tan dan Young Do saat mereka SMP?


Eun Sang mendesah kesal melihat Young Do. Tapi Young Do juga begitu. Kalau Eun Sang diganggu oleh orang, orang itu harusnya dirinya dan bukannya kedua anak tadi. Tapi Eun Sang hanya menjawab pendek kalau cafenya sudah tutup dan meminta Young Do pergi.


Young Do heran melihat Eun Sang yang tak berterima kasih padanya karena telah diselamatkan dari kedua orang jahat tadi. Tapi Eun Sang menyelanya, “Kaulah yang jahat. Kau adalah alasan mengapa aku tak pergi ke sekolah. Kenapa kau selalu menggangguku?”


Young Do terlihat muram mendengar hardikan Eun Sang dan menjawab pelan, “Aku tak mengganggumu.” Namun hanya sesaat, karena Young Do berkata, “Apakah yang ini yang akan sedikit mengganggu? Aku pergi ke rumah yang dulu pernah kau tinggali.”


Young Do tersenyum melihat paras Eun Sang yang berubah. “Kalau begitu, dengarkan. Satu,” Young Do mengacungkan telunjukknya, “Kau tinggal di rumah yang sangaaat jelek. Kedua, sekarang kau tinggal di Pyongchang-dong. Karena itu kita bertemu di minimarket. Ketiga, smakin aku melihatmu, aku semakin yakin kalau kau adalah murid beasiswa. Karena itu keempat,..”


“Benar. Kau benar. Aku bukan orang kaya baru,” potong Eun Sang, tahu kalau itu adalah poin keempat Young Do. Young Do terdiam, sedikit kaget melihat keberanian Eun Sang yang kembali berkata, “Kau juga benar karena aku sekolah di sana karena beasiswa.”

Mungkin Young Do mengharap reaksi Eun Sang yang ketakutan, jadi Young Do hanya tersenyum canggung dan berkata kalau ia memang akan mengatakan itu. Eun Sang bertanya memang kalau Young Do tahu masalah itu, kenapa? Apa Young Do akan mengusirnya dari SMA Jeguk?


Perlahan Young Do menjawab, “Tidak. Karena aku mulai suka denganmu.” Eun Sang kaget mendengarnya, tapi Young Do belum selesai, “Tapi kau tak menyukaiku, kan?”

Eun Sang tak menyangka Young Do berkata seperti itu, jadi kali ini Eun Sang terdiam, tak menjawab.


Tan menunggu kedatangan Eun Sang. Tak kunjung melihat sosok Eun Sang muncul di halaman rumah, ia pun mememeriksa luar rumah dari kamera CCTV.


Whoa.. Harry Borrison, anyone?


Ternyata Eun Sang duduk di luar gerbang. Melihat Eun Sang termenung dan nampak sedih, Tan berniat untuk menyusulnya. Tapi ia mengurungkan niat setelah melihat ada seseorang yang menghampiri gadis itu dan kembali duduk untuk melihatnya.


Ibu Eun Sang, yang baru saja membuang sampah, menghampiri putrinya. Eun Sang bertanya apakah pihak sekolah menelepon ibu? Ia mengaku kalau hari ini ia membolos. Melihat ibu hanya mengangguk namun tak marah, membuat Eun Sang bertanya mengapa ibu tak memarahinya?


Dengan bahasa isyarat ibu berkata kalau ia tahu kalau Eun Sang tak mau masuk karena merasa sangat berat. Jadi jika ia menanyai Eun Sang, maka Eun Sang akan merasa lebih terbebani.


Eun Sang menitikkan air mata mendengar ucapan ibu yang penuh pengertian. Air matanya semakin merebak saat ibu menggenggam tangannya. Ia memaksakan senyum dan meminta ibu untuk tak khawatir, “Aku merasa berat hanya untuk hari ini saja. Aku akan masuk sekolah besok. Ini adalah seragam 1 juta won, jadi aku akan membuat seragam ini setara dengan nilainya.”

Ibu mengangguk dan berkata kalau cuaca di luar sangat indah. Eun Sang menganggu dan mereka pun duduk di sana lebih lama.


Keesokan harinya, Eun Sang menepati janji pada ibunya. Ia bersekolah walau mendapat pandangan menggunjing dari siswa lain. 


Ia berpapasan dengan Tan dan berusaha sedapat mungkin untuk tak memandangnya.


Tapi Tan pun juga tak memandangnya, seakan ia memenuhi permintaan Eun Sang untuk meninggalkannya. Ia terus berjalan lurus, tak melirik sedikitpun. Malah Eun Sang yang melirik ke belakang.


Ibu Eun Sang panik setengah mati karena mendapat telepon yang ia tahu pasti menanyakan tentang pertemuan POMG. Ia meminta tolong agar Nyonya Han untuk mengangkat teleponnya.


Nyonya Han pun mengangkat teleponnya dan tanpa basa-basi, ia mengatakan kalau ia tak bisa hadir di rapat POMG karena mendapat halangan, “Halangan yang tak bisa di’bi-ca-ra’kan.” Hahaha.. Nyonya Han ini lumayan juga.

Tentu saja si penelepon tak menangkap maksud Nyonya Han dan meminta ibu Eun Sang untuk tetap hadir karena Eun Sang adalah murid pindahan. Dan si penelepon itu langsung menutup telepon.


Nyonya Han marah karena si penelepon itu tak sopan padanya. “Apakah aku harus ikut campur dan ‘membersihkan’ orang-orang ini?” ucapnya kesal. Dan bak preman pulak.. Namun ia memiliki ide untuk datang dan menyelesaikan semuanya.


Ibu Eun Sang buru-buru menulis kalau Nyonya Han seperti itu, maka Nyonya Han akan ketahuan sebagai istri simpanan. Ibu Eun Sang terbelalak dan berhenti menulis karena salah tulis.


Ia segera mencoret tulisan istri simpanan, tapi Nyonya Han mendelik, mencoba merampas notes itu, “Ketahuan, kau. Aku melihatmu menulis istri simpanan.” Tapi ibu Eun Sang menarik lebih keras dan buru-buru menulis dengan kalimat yang lebih ‘masuk akal’, “Saya hanya khawatir kalau Anda keluar maka semua akan terungkap.”

Nyonya Han kembali tenang dan bertanya dengan mata berbinar-binar, “Memang siapa yang bilang kalau aku akan pergi sebagai ibu Tan?”


Rachel marah melihat kehadiran Eun Sang di sekolah ini lagi. Ia ingin tahu sebenarnya status sosial Eun Sang ini ada dimana? Seberapa kaya Eun Sang ini sebagai Orang Kaya baru? Eun Sang menganggap kalau semua itu adalah kekanak-kanakkan.


Tapi tidak menurut Rachel. Walau ia bertunangan dengan Tan, ia tak pacaran dengan Tan, karena ini lebih ke arah merger dua perusahaan besar. “Pertukaran saham, sharing tekhnologi. Ini adalah penggabungan untuk menghasilkan laba yang jutaan bahkan milyaran won. Dan kau mengatakan kalau ini adalah kekanak-kanakkan?” tanya Rachel tinggi.


Sekarang Rachel ingin bertanya pertanyaan yang dulu pernah ia tanyakan di Amerika. Siapakah Eun Sang sebenarnya? Eun Sang menjawab kalau sebentar lagi semua akan tahu, karena Young Do sudah mengetahuinya.


Seorang wanita muncul dengan segela merek ternama tertempel di badannya, membuat semua ibu (kecuali Ibu Ye Seul) terkesima karena melihat penampilan seorang wali murid itu. Dan betapa terkejutnya semua ibu karena ibu trendy itu memperkenalkan diri sebagai ibu Eun Sang.


Pertemuan ini dilakukan untuk membahas leadership camping yang diakan diadakan dalam waktu dekat. Tahun lalu ibu Myung Soo menyumbang tiket pesawat dan ibu Rachel menyumbang baju camping (para ibu diminta untuk bertepuk tangan). Dan tahun ini ayah Young Do akan menyumbang biaya hotel (ibu-ibu diminta untuk bertepuk tangan lagi). Dan itu berarti ada beberapa biaya yang belum ter-cover.


‘Ibu Eun Sang’ langsung mengangkat tangan, “Saya yang akan melakukannya.”


Semua mata memandang pada Nyonya Han. Apalagi saat Nyonya Han berkata kalau ia yang akan menutup semua biayanya. Salah satu ibu mengatakan kalau jumlahnya tak hanya satu atau dua (juta won) saja. Dengan tenang Nyonya Han menjawab kalau ia tak peduli berapa biaya yang harus ia keluarkan, entah satu, dua atau seratus. Ia yang akan melakukannya.

Para ibu kembali diminta untuk bertepuk tangan. Nyonya Han tersenyum sopan mendengarnya. Tapi senyumnya menghilang saat mendengar kalau kepala sekolah SMA Jeguk yang juga ibu Tan datang.

Hahaha… ia langsung panik dan ibu Ye Seul berbisik, “Apa yang sekarang bisa kau lakukan?” Nyonya Han langsung berpaling dan menyembunyikan wajahnya.


Tapi mana bisa ia menyembunyikan wajahnya kalau Nyonya Jung tepat persis di sampingnya? Nyonya Jung juga nampak kaget melihat siapa yang ada di sampingnya. 


Salah satu memperkenalkan mereka dan tak tahu harus berkata apa, Nyonya Han memuji anak Nyonya Jung, Tan, sebagai anak yang sangat tampan, tinggi dan berkepribadian yang baik. Nyonya Jung menyindir kalau Nyonya Han sepertinya sangat mengenal Tan dengan baik.


Upps.. Nyonya Han langsung beralasan kalau Eun Sang selalu membicarakan Tan setiap hari sehingga ia merasa kalau ia sudah seperti mengenal Eun Sang. Esther langsung menatap Nyonya Han dengan lebih tertarik. Nyonya Han melanjutkan, kalau saja ia punya seorang anak perempuan, maka ia menginginkan Tan sebagai menantunya. Nyonya Jung kembali menyindir, “Bukankah kau punya anak perempuan?”


Hahaha.. Double Uppss… Nyonya Han segera menyadari kesalahannya. Maka ia berpura-pura perlu pergi ke toilet, dan meninggalkan semuanya.


Tapi Nyonya Jung mengikutinya. Setelah memastikan tak ada orang di toilet, Nyonya Jung memarahi Nyonya Han. Tapi Nyonya Han tak peduli atas masalah yang baru saja ia timbulkan karena ia merasa senang bisa datang ke pertemuan orang tua murid untuk pertama kalinya.


Nyonya Jung berkata kalau Nyonya Han punya waktu untuk hal seperti ini, seharusnya Nyonya Han bisa mengajari Tan agar tak berkelahi di sekolah dan mencoreng nama SMA Jeguk. Tapi Nyonya Han berkata kalau anak-anak itu masih remaja, tentu saja anak-anak itu suka berkelahi. Nyonya Jung pasti berpengalaman dengan hal seperti itu kalau Nyonya Jung punya anak sendiri.

“Apa kau tahu anak siapa yang berkelahi dengan Tan?” tanya Nyonya Jung marah.


Nyonya Han tak tahu. Tapi ia bisa menebak kalau ibu si anak itu pasti ada di ruang pertemuan, “Apakah dia adalah wanita yang bertampang serigala? Kau tahu, kan, wanita berambut pendek dengan memakai kalung yang mirip dengan bola mata raksasa?”


“Serigala itu adalah calon besanmu. Ibu mertua Tan,” jawab Nyonya Jung yang berbaik hati akan memperkenalkan Nyonya Han pada Esther jika ia mau.


Mau lakban untuk menutup mulut, Nyonya Han?


Di sekolah Eun Sang dipojokkan oleh Ye Seul dan teman-temannya. Mereka bertanya siapa nama ayah dan ibu Eun Sang? Dan apa nama perusahaan keluarganya yang katanya menjadi orang kaya baru, kenapa bisnis keluarganya tak pernah muncul di media. Tapi Eun Sang tak mau menjawab. 


Di belakang, Tan pura-pura mendengarkan musik, walau sama seperti Young Do, ia juga mendengarkan percakapan itu.


Eun Sang tak mau menjawab, membuat Ye Seul mendorong Eun Sang. Tan menarik earphone-nya, hendak ikut campur, tapi Young Do sudah mendahuluinya, “Kang Ye Seul. Jangan menyentuhnya!”


Mendadak Myung Soo masuk kelas dengan membawa kabar yang menghebohkan. Myung Soo bertanya pada Eun Sang, hal yang sama seperti yang ditanyakan Ye Seul sebelumnya, “Hei OKB, orang tuamu kerja apa? Aku baru saja mendapat telepon dari ibuku yang mengatakan kalau ibu Eun Sang sangat hebat sekali.”

“Apanya yang hebat?”


“Hari ini kan pertemuan orang tua murid. Penampilan ibu Eun Sang, dari ujung rambut sampai ujung kaki, seharga mobil luar! Dia bahkan keluar dari mobil yang paling keren, membuat semua ibu kehilangan percaya diri.”


Berita itu membuat semua tercengang, bahkan termasuk Tan dan Eun Sang sendiri. Myung Soo bertanya apakah mungkin bisnis keluarga Eun Sang adalah simpan pinjam/lintah darat? LOL. Masuk akal juga sih, Lintah darat adalah bisnis yang menghasilkan besar tanpa muncul di surat kabar. Bahkan, menurut kabar yang didengar Myung Soo, biaya camping mereka selain kamar, dibiayai oleh ibu Eun Sang semua.


Rachel bengong mendengarnya. Tapi Tan dapat menduga siapa ibu Eun Sang itu.


Rachel mengkonfirmasi pada ibunya. Dan Esther membenarkan hal itu. Ibu Eun Sang bahkan memiliki tas yang sama dengan tas miliknya, tas yang hanya ada 20 buah di dunia ini.


Ibu Eun Sang benar-benar menjadi bahan pembicaraan anak-anak. Bo Na yang tadi tak mengikuti pelajaran bersama yang lain, menanyakan apakah benar-benar yang Myung Soo dengar adalah ibu Eun Sang? Apa Ibu Myung Soo tak salah lihat?


Myung Soo mengatakan kalau ibunya adalah pengacara terbaik di Korea Selatan, setelah ayahnya. Tapi Bo Na masih belum bisa percaya. Sementara Ye Seul merasa dipermalukan di depan Young Do. Err… apa Ye Seul naksir Young Do?

Young Do sekarang sedang melakukan hukuman dari sekolah bersama Tan. Dan Myung Soo merasa kalau ia harus mendamaikan kedua orang itu, “Mengunci keduanya di ruang bawah tanah sepertinya ide yang bagus.”


Tapi Bo Na tak merasa begitu. Karena jika Myung Soo mengunci mereka berdua, keesokan harinya pasti hanya ada satu orang saja yang keluar.

LOL. Atau mungkin, keduanya keluar hidup-hidup, tapi ada satu orang yang mati. Myung Soo. Heheh.. *abaikan*


Kedua anak orang kaya ini sama-sama tak mau mengepel. Haha.. Tan menyuruh Young Do untuk mengepel sendirian. Tapi Young Do menjatuhkan tongkat pel. Ia menolak karena ia sudah setiap hari membersihkan kamar-kamar di hotel. Jadi ia menyerahkan semuanya pada Tan.


Young Do beranjak pergi, tapi Tan menendang ember sehingga sebagian airnya muncrat. Tanpa banyak kata, Tan meninggalkan Young Do tapi berhenti karena ucapan Young Do. “Kenapa ingin cepat pulang? Apakah kau ingin bertemu dengan ibu kandungmu?”


Tan mendesah kesal dan berkata, “Hari ini pertemuan orang tua murid. Apakah ibumu datang?” Tan berbalik dan tersenyum, “Ahh.. Aku lupa. Ibumu melarikan diri.”


Young Do sudah tak tersenyum lagi dan Tan mengatakan kalau Young Do yang memulai semua ini, “Tiga tahun yang lalu dan juga sekarang.”


Eun Sang masih belum tahu siapa ibunya yang datang ke pertemuan itu. Ia meng-sms ibunya untuk menanyakan hal ini.


Sementara Tan langsung mengkonfrontasi ibunya akan hal ini. Dan Nyonya Han dengan bangga mengakuinya, “Aku membuat semua ibu-ibu itu mengkeret. Aku benar-benar menipu mereka.”


Tapi Tan malah marah karena hal ini, membuat Nyonya Han minta maaf karena tak berpikir dengan jernih. Nyonya Han berkata kalau ia melakukan hal ini karena merasa penasaran, “Aku ingin tahu bagaimana teman-temanmu. Bagaimana para ibu dari murid-murid itu. Bagaimana pertemuan orang tua murid itu. Apa yang mereka lakukan.”


Tan luluh melihat wajah ibunya yang terlihat sedih. Ia tak memperpanjang masalah itu, hanya meminta ibunya untuk mengurangi minum anggur karena itu membuatnya cemas. Nyonya Han berjanji.


Pelayan muncul untuk memberitahukan kalau ada teman Tan datang. Muncullah Young Do yang menyapa Tan dengan ceria, seolah mereka adalah sahabat lama. Penuh kemanisan, Young Do bertanya dimanakah ibu kepala sekolah.. err.. ibu Tan agar ia bisa memberi salam yang pantas padanya.


Tan mendesah tak percaya. Nyonya Han diam-diam beringsut pergi. Tapi Young Do menghentikannya, “Maaf, tapi bisakah kau membawakan aku segelas air, Ahjumma?”


Wajah Tan semakin keruh mendengar hal itu. Saat ibunya mengiyakan dengan sopan dan berjalan menuju dapur, ia memegang tangan ibunya dan menahannya, “Ibu, ada yang ingin mengucapkan salam. Ini adalah temanku.”


Nyonya Han semakin panik karena Tan berkata seperti itu. Young Do pura-pura kaget mendengarnya, “Aku tak mengenalinya karena ia berbeda dengan ibu yang aku kenal,” dengan wajah serius ia meneruskan, “Ini pasti ibu kandungmu.”


Tan memberi senyum, menenangkan ibunya. Ia akan mengajak temannya bicara di luar. Dan pada Young Do, ia menyuruhnya untuk keluar sebelum ia membunuhnya. Young Do pun mengikuti Tan keluar setelah membungkuk hormat pada Nyonya Han.


Di luar, Tan mengatakan kalau Young Do benar-benar membuktikan kalau ia adalah bajingan, tapi jika itu adalah rencana Young Do untuk membuatnya bertekuk lutut di hadapan Young Do, maka Young Do salah.


Young Do mengalihkan perhatian pada sosok yang ada di muncul di halaman, dan tak sadar kalau sedang diawasi karena sibuk meng-SMS. Young Do berkata kalau ternyata rencananya ke rumah Tan adalah benar.


Eun Sang akhirnya sadar kalau ada orang lain di dekatnya. Dan betapa terkejutnya melihat Young Do berdiri di sana. Tan juga menyadari siapa yang datang, sejenak tak tahu apa yang harus ia lakukan.


“Kau juga tinggal di sini? Aku tak datang untuk menemukan ini, tapi” Young Do menatap Tan tajam dan berdecak seperti mengokang senapan, “Aku mendapat hadiah utama.”


(Bersambung)
Share this article :

0 comments:

Speak up your mind

Tell us what you're thinking... !

Google Translate

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Love and Like Movie - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger